Sumber: Surya, 20 Oktober 2008 “BIGREDS, Wadahi Penggemar Liverpool, Berawal di Kafe Donat, Kini Punya Markas ”

Inilah wajah-wajah member BIGREDS Surabaya yang kemarin nonton bareng Liverpool vs Wigan di Red’s Center.

SURABAYA - Stadion sepakbola Anfield, Liverpool, Inggris. Dirk Kuyt, anak muda berusia 26 tahun asal Belanda, mencetak angka saat timnya, Liverpool melawan Wigan, Sabtu (18/10). Pada waktu bersamaan, di Jl Wijaya Kusuma Surabaya, jutaan mil dari tempat tersebut, 25 anak muda melompat kegirangan seperti orang gila. Mereka berteriak. Tertawa. Melinangkan air mata. Bernyanyi. Menari. Melakukan apa saja untuk merayakan kemenangan Liverpool, tim sepakbola asal Inggris yang begitu mereka puja. Untuk beberapa saat, mereka seperti sekumpulan orang kehilangan akal.

Anak-anak muda ini menyebut diri mereka sebagai BIGREDS, komunitas pecinta Liverpool di Indonesia. BIGREDS adalah akronim dari Bold Indonesia Group of Reds Indonesia. Kata ‘Reds’ adalah nama julukan untuk klub Liverpool.

Didirikan di Jakarta sembilan tahun lalu, dalam perkembangannya BIGREDS telah membuka perwakilan di banyak kota besar. Surabaya salah satunya. “Kalau di Surabaya, BIGREDS berdiri sejak 2005,” ujar Dedy Susanto, 26, anggota komunitas ini.

Adalah Ferhat Abas, yang pertama kali menggagas berdirinya BIGREDS di Surabaya. “Awalnya, anggota cuma 10 orang. Waktu itu, kami hanya nonton bareng di Kafe Donat di bilangan Basuki Rachmad sana,” kenang Ferhat.

Anggota demi anggota bertambah. Puncaknya, sejak Liverpool menjadi juara Liga Champions pada 2005. “Kini, anggotanya ada 45 orang,” tambah Dedy bangga.

Tak melulu anak muda, anggota BIGREDS terdiri dari banyak kalangan. Dari cewek berjilbab, pengacara, dokter, sampai bule asli Inggris, tercatat sebagai anggota resmi BIGREDS Surabaya.
Kini, mereka punya base-camp, di warung pecel Bu Muthia, Jl Wijaya Kusuma 17. “Kami tidak menyewa, tapi ada hubungan mutualisme. Jadi, biasanya kalau kami nonton bareng di sini, anak-anak suka beli makan dan minum di Bu Muthia,” tukas Dedy.

Warung pecel berukuran sekitar 4×8 meter itu didominasi warna merah, warna kebesaran klub Liverpool. Tiga poster besar bergambar pemain dan logo Liverpool nampak rapi digantungkan di dinding.

Di Surabaya, BIGREDS juga diakui sebagai komunitas pecinta klub sepakbola luar negeri, yang pertama kali terorganisir dengan baik. Tiap calon anggota, dipungut uang Rp 150.000 sebagai syarat untuk masuk keanggotaan. “Kelihatannya mahal, tapi uang registrasi itu berlaku untuk tiga tahun. Jadi, cukup murah, kan?” terang Dedy berpromosi.

Apalagi, lanjut Dedy, setiap anggota BIGREDS bisa nonton gratis setiap tayangan langsung pertandingan Liverpool di markas mereka. “Ada juga bonus kaus Liverpool, selain kartu member yang bisa digunakan sebagai kartu diskon untuk membeli barang-barang asli Liverpool keluaran Adidas,” tambah pria murah senyum ini.

Nick, bule asal Brighton yang tergabung dalam BIGREDS Surabaya mengungkapkan kekagumannya terhadap apresiasi teman-temannya. “Its amazing (hebat banget),” ujarnya singkat saat ditanya pendapatnya tentang komunitas BIGREDS.

“Berada di sini setidaknya bisa mengobati kerinduan saya dengan kampung halaman,” ujar Nick yang bekerja sebagai native-speaker di salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris.
Wawancara telah usai. Di Jl Wijaya Kusuma, sayup-sayup masih saja terdengar para anggota BIGREDS menyanyikan lagu ‘You’ll Never Walk Alone’, lagu kebanggaan fans Liverpool yang diciptakan The Beatles.

“Walk on through the wind. Walk on through the rain. Tho’ your dreams be tossed and blown. Walk on, walk on with hope in your heart. And youll never walk alone,” Nyanyian mereka sumbang dan memekakkan telinga. Tapi, mereka tak peduli. (AJI BRAMASTRA)