49506b97434451

Haloo semua, setelah sekian lama tidak posting, akhirnya saya bisa menyempatkan posting lagi. Karena berbagai kesibukan pekerjaan. Haha…

Oke teman-teman, ini saya langsung aja mengumumkan bahwa game terbaru yang saya ikut serta menggarapnya, telah selesai dan sudah launching! Sama seperti Epic War sekuel pertama yang dimana kita harus mempertahankan tower kita utuh. Di game sekuel terbaru ini ada banyak tambahan karakter dan background serta disisipi “kesulitan dan keruwetan”, jadi kita dituntut untuk memakai strategi perang. Tidak hanya melulu bunuh, bunuh, dan hancurkan kastil musuh, tapi kita harus memakai otak untuk memberikan perlawanan dan harus meng-counter attack musuh.

Ini linknya :   Epic War 2 online

Game ini persembahan ArtLogic Games dan disponsori oleh Kongregate.com

Saya disini sebagai Background Artist saja, hehe… sedikit tapi di setiap tampilan game selalu ada karya saya haha… . Kalau mau lihat background2 yang sudah saya buat, silahkan klik FrogLord, The End, King of Hell, BG1, BG2, dan BG3.

Oke, selamat menikmati dan kalahkan raja2nya…!!

Tegar Ariprabowo

Silahkan klik “play” untuk menonton karya-karya kami, showreel ini kami susun terakhir bulan Juli kemarin.

Kompilasi ini berisi cuplikan-cuplikan film animasi dan PSA yang pernah kami buat sejak tahun 2006-2008. Dilain waktu ke depan, saya ingin menyantumkan setiap perkembangan tentang karya kami.

Regards,

Tegar Ariprabowo – Editor Tekaceria Studio

Sumber: Surya, 20 Oktober 2008 “BIGREDS, Wadahi Penggemar Liverpool, Berawal di Kafe Donat, Kini Punya Markas ”

Inilah wajah-wajah member BIGREDS Surabaya yang kemarin nonton bareng Liverpool vs Wigan di Red’s Center.

SURABAYA - Stadion sepakbola Anfield, Liverpool, Inggris. Dirk Kuyt, anak muda berusia 26 tahun asal Belanda, mencetak angka saat timnya, Liverpool melawan Wigan, Sabtu (18/10). Pada waktu bersamaan, di Jl Wijaya Kusuma Surabaya, jutaan mil dari tempat tersebut, 25 anak muda melompat kegirangan seperti orang gila. Mereka berteriak. Tertawa. Melinangkan air mata. Bernyanyi. Menari. Melakukan apa saja untuk merayakan kemenangan Liverpool, tim sepakbola asal Inggris yang begitu mereka puja. Untuk beberapa saat, mereka seperti sekumpulan orang kehilangan akal.

Anak-anak muda ini menyebut diri mereka sebagai BIGREDS, komunitas pecinta Liverpool di Indonesia. BIGREDS adalah akronim dari Bold Indonesia Group of Reds Indonesia. Kata ‘Reds’ adalah nama julukan untuk klub Liverpool.

Didirikan di Jakarta sembilan tahun lalu, dalam perkembangannya BIGREDS telah membuka perwakilan di banyak kota besar. Surabaya salah satunya. “Kalau di Surabaya, BIGREDS berdiri sejak 2005,” ujar Dedy Susanto, 26, anggota komunitas ini.

Adalah Ferhat Abas, yang pertama kali menggagas berdirinya BIGREDS di Surabaya. “Awalnya, anggota cuma 10 orang. Waktu itu, kami hanya nonton bareng di Kafe Donat di bilangan Basuki Rachmad sana,” kenang Ferhat.

Anggota demi anggota bertambah. Puncaknya, sejak Liverpool menjadi juara Liga Champions pada 2005. “Kini, anggotanya ada 45 orang,” tambah Dedy bangga.

Tak melulu anak muda, anggota BIGREDS terdiri dari banyak kalangan. Dari cewek berjilbab, pengacara, dokter, sampai bule asli Inggris, tercatat sebagai anggota resmi BIGREDS Surabaya.
Kini, mereka punya base-camp, di warung pecel Bu Muthia, Jl Wijaya Kusuma 17. “Kami tidak menyewa, tapi ada hubungan mutualisme. Jadi, biasanya kalau kami nonton bareng di sini, anak-anak suka beli makan dan minum di Bu Muthia,” tukas Dedy.

Warung pecel berukuran sekitar 4×8 meter itu didominasi warna merah, warna kebesaran klub Liverpool. Tiga poster besar bergambar pemain dan logo Liverpool nampak rapi digantungkan di dinding.

Di Surabaya, BIGREDS juga diakui sebagai komunitas pecinta klub sepakbola luar negeri, yang pertama kali terorganisir dengan baik. Tiap calon anggota, dipungut uang Rp 150.000 sebagai syarat untuk masuk keanggotaan. “Kelihatannya mahal, tapi uang registrasi itu berlaku untuk tiga tahun. Jadi, cukup murah, kan?” terang Dedy berpromosi.

Apalagi, lanjut Dedy, setiap anggota BIGREDS bisa nonton gratis setiap tayangan langsung pertandingan Liverpool di markas mereka. “Ada juga bonus kaus Liverpool, selain kartu member yang bisa digunakan sebagai kartu diskon untuk membeli barang-barang asli Liverpool keluaran Adidas,” tambah pria murah senyum ini.

Nick, bule asal Brighton yang tergabung dalam BIGREDS Surabaya mengungkapkan kekagumannya terhadap apresiasi teman-temannya. “Its amazing (hebat banget),” ujarnya singkat saat ditanya pendapatnya tentang komunitas BIGREDS.

“Berada di sini setidaknya bisa mengobati kerinduan saya dengan kampung halaman,” ujar Nick yang bekerja sebagai native-speaker di salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris.
Wawancara telah usai. Di Jl Wijaya Kusuma, sayup-sayup masih saja terdengar para anggota BIGREDS menyanyikan lagu ‘You’ll Never Walk Alone’, lagu kebanggaan fans Liverpool yang diciptakan The Beatles.

“Walk on through the wind. Walk on through the rain. Tho’ your dreams be tossed and blown. Walk on, walk on with hope in your heart. And youll never walk alone,” Nyanyian mereka sumbang dan memekakkan telinga. Tapi, mereka tak peduli. (AJI BRAMASTRA)

Ini saat mengejar deadline jam 10 paginya. Ngebut abis!

Kebetulan saya nampang di koran Jawapos (Metropolis) halaman 35, edisi Minggu 19 Oktober 2008.

=============================

24 jam yang luar biasa…

24 jam yang hebat…

24 jam yang mendebarkan…

24 jam yang penuh canda tawa…

24 jam yang bikin leher sakit…

24 jam yang panas…

24 jam yang onar…

Yah, itulah gambaran situasi yang ada di C2O Surabaya. Asyik juga bisa ikut 24HCD untuk yang kedua kalinya, walaupun persiapan kali ini untuk saya sendiri kurang begitu matang. Melakukan pendaftaran 1 minggu sebelum hari H, sampai hari H belum dapet ide cerita. Beruntung akhirnya dapet juga walaupun persiapan breakdown belum matang.

Datang telat jam 10.30 (telat 1/2 jam doank sih), berarti waktuku tinggal 23,5 jam. Akhirnya ngebut… Sempat bingung karena isi pensil mekanik habis dan lupa bawa isinya, sedangkan di seikat alat tulis yang saya bawa dengan terburu-buru tadi hanya ada pensil 4B yang ukurannya tinggal sependek jari kelingking. Panik bin bingung… Nekat aja saya pakai, daripada minta-minta isi pensil sono-sini sambil SKSD :D

Sempat terlena dengan bikin detail gambar, padahal waktu sudah berjalan 5 jam dan baru dapat 5 halaman, dan belum apa-apa alias masih mentah. Kalau diteruskan seperti ini bisa ngepas 24 jam bikin gambar mentah donk… :D Tapi syukurlah keajaiban datang lagi (keajaiban 24HCD yang lalu, 12 jam sketsa, 12 jam inking+finishing), pelan-pelan tapi pasti, saya mengalahkan waktu, dalam 10 jam, saya sudah dapat 13 gambar.

Bosan… Jam 21.00 saya menuju Reds Center untuk nonton Liverpool vs Wigan sampai jam 23.30. Kemenangan Liverpool yang dramatis membawa mood saya balik lagi, walaupun mata sudah sepet dan perut mengenyang (hehe, habis makan nasi pecel di markas, laper euy!). Tepat jam 3 dini hari, lengkap sudah 24 halaman mentah. Dilanjutkan merender sampai jam 6.30 pagi… Lalu outlining makan waktu 1,5 jam… panik… karena naskah text belum sempurna dan harus dilettering segera…

Tepat jam 10.00!

Lettering kurang 6 halaman, belum menghapus bekas pensil text. Santai! Santai! Akhirnya bisa selesai juga jam 10.30 berkat dukungan temen-temen. Fiuuh… maaf telat yaaa…! :D

Terimakasih banyak buat temen-temen (maaf, lupa nanya nama kalian) yang ikut bantuin menghapus pensilan text saya, Good Job semuanya! Ha Ha Ha… :D

Terimakasih buat Mbak Kathleen, Yudis, Broki dan rekan-rekan CASS selaku panitia (Kalian TOP daah!)

Terimakasih juga buat Pak Wow (Mas Wawan Pinkblues) dan Mas Tosan Cazlorda, yang bikin ngakak selalu… HAHAHAHAHAHAHA… KOMIK!!!! (trauma denger kata “komik” karena 24 jam penyiksaan ini, hahaha… maka kata “komik” menjadi haram diperdengarkan seolah-olah itu MESO atau kata-kata kotor :D ).

KOMIK!!

KOMIK!!!

SALAM KOMIK!!!

Tegar Ariprabowo

foto-foto selengkapnya bisa di lihat disini

Sumber: Jawa Pos, 10 Oktober 2008 “Sebuah Kuburan Keruwetan”

Di kuburan besar itu tidak ada penjelasan siapa yang dimakamkan ramai-ramai di situ. Di tiap batu nisannya hanya tertulis kata-kata begini: penyebab kematiannya adalah keruwetan. Oh, tidak sulit menebak kuburan siapa gerangan itu: Lehman Brothers dan kawan-kawan! Dan, keruwetan yang menyebabkan tewasnya berbagai perusahaan terbesar di dunia itu adalah sebuah urusan yang, menurut Warren Buffett, bernama “racun derivatif”.

Racun itu terbuat dari ramuan “kecerdasan, gairah, dan kerakusan”. Unsur-unsur dalam ramuan itu, misalnya, commercial papers, mortgage-backed securities, short selling, hedging, over the counter, credit default swaps, equity swaps, interest swaps, margin trading, futures, forward, option, dan banyak lagi. Kalau toh bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari tiap-tiap istilah keuangan itu tetap saja ruwet. Seruwet memahami definisi dan peraturannya.

Gampangnya: semua itu adalah anak-cucu dari sistem perbankan yang merasa tidak cukup lagi kalau hanya mendapat keuntungan dari menerima tabungan dan memberi pinjaman. Harus diciptakan produk-produk perbankan yang baru. Itulah derivatif. Yang menciptakannya harus cerdas, bergairah, dan rakus. Yang menjalankannya harus bergairah, rakus, dan cerdas. Yang memilikinya tidak harus cerdas, tapi tetap harus rakus dan bergairah.

Saya punya teman pengusaha besar yang asalnya sangat miskin. Dia lima bersaudara. Saudara tertua kerja mati-matian membanting tulang secara fisik. Sampai harus bertani dan kemudian berkebun sendiri. Lama-lama si sulung itu menjadi pengusaha besar hasil bumi. Dia tidak ingin adiknya tidak sekolah tinggi seperti dirinya. Karena itu, adiknya yang terkecil disekolahkan ke Amerika. Sekolah keuangan. Maksudnya, agar perusahaan keluarga yang dikelola secara tradisional itu kelak bisa jadi perusahaan modern.

Si bungsu sekolah dengan tekun dan jadi ahli keuangan. Ketika pulang, dia merasa perusahaan yang dirintis kakaknya itu harus dibuat modern. Sistem keuangannya harus secanggih di AS, terutama struktur pendanaannya. Si sulung merasa bodoh dan karena itu menyerahkan saja semuanya kepada si bungsu. Terjadilah krismon. Struktur keuangannya ternyata rapuh. Perusahaan itu mengalami kesulitan yang luar biasa. “Pak Dahlan, gara-gara adik, sekarang saya harus kembali bertani lagi,” katanya saat krismon masih berlangsung. Syukurlah kini dia sudah jaya kembali.

Sistem keuangan modern memang luar biasa variasinya. Apalagi mendapat dukungan sistem komputer. Perdagangan derivatif kian lama kian membesar. Tentu semuanya di atas kertas, atau di layar komputer. Meski namanya jual-beli, yang berpindah tangan bukan barang atau uang, melainkan angka-angka. Bertukarnya juga sangat kilat. Antarnegara sekalipun bisa secepat kilat. Kalau menanam tebu memerlukan 16 bulan, menanam derivatif hanya dalam hitungan detik.

Enam tahun lalu, Warren Buffett, sudah mengingatkan secara terbuka bahaya perdagangan derivatif ini. “Derivatif adalah senjata pemusnah masal keuangan,” katanya. Waktu itu istilah senjata pemusnah masal lagi top-topnya sebagai alasan Presiden Bush untuk menyerang Iraq dan menangkap Saddam Hussein. “Saya tidak tahu kapan meledak, tapi suatu hari kelak pasti meledak,” tambahnya.

Derivatif ternyata meledak sekarang.

Warren Buffett adalah orang terkaya di dunia saat ini, mengalahkan Bill Gate. Dialah chairman Berkshire Hathaway yang memiliki bisnis ritel terbesar di dunia: Wal-mart. Dia punya pengalaman pahit membeli perusahaan yang rupanya sudah digelembungkan melalui berbagai perdagangan derivatif. Mau dia jual lagi tidak laku. Maka dia harus membersihkan “lemak dan kolesterol” dari perusahaan itu selama lima tahun dengan kerugian yang sangat besar. Dari situ dia menyimpulkan bahwa derivatif pasti akan meledak jadi bom keuangan. Bahkan, dalam lima tahun setelah dia ucapkan, bom itu sudah lima kali lipat besarnya.

Subprime (mortgage) ternyata hanya satu bagian kecil dari penyebab kekacauan keuangan sekarang ini. Volume uang yang terkait dengan derivatif ini jauh lebih besar daripada perkiraan semula yang hanya USD 15 triliun. (Dalam rupiah harus ditulis begini: Rp 141.000.000.000.000.000, dengan asumsi kurs Rp 9.400 per dolar AS). Bisa jadi transaksi derivatif ini mencapai USD 516 triliun. Angka ini dikeluarkan oleh “ketuanya” bank-bank sentral seluruh dunia yang disebut Bank of International Settlement (BIS) yang berpusat di Basel, Swiss.

Begitu besar dan ruwetnya, sampai-sampai menurut Buffett, pemerintah mana pun, termasuk USA, tidak bisa lagi mengontrol perdagangan derivatif itu. “Bahkan, hanya untuk memonitor pun sudah tidak mampu,” katanya.

Derivatif ini sebenarnya sudah sulit dibedakan dengan perjudian. Dalam perdagangan saham murni, meski ada unsur spekulasinya, masih bisa dianalisis. Tapi, dalam perdagangan derivatif yang bisa menganalisis hanya para pelaku sistem itu. Pemilik uang sulit memahaminya.

Saya punya teman baik yang juga penggemar Formula One. Sukanya keliling dunia. Dan memotret. Dia pernah bekerja keras selama 20 tahun untuk mengumpulkan uang sampai Rp 40 miliar. Uang itu dipercayakan kepada satu bank di Singapura untuk diputar. Masuklah ke mesin derivatif. Dalam hitungan detik, uang itu amblas. Di meja judi pun tidak akan secepat itu!

“Saya ini kebalikan dari Anda,” katanya menghibur diri. “Kalau Anda, sakit hati dulu lalu mengeluarkan uang. Kalau saya, mengeluarkan uang dulu, lalu sakit hati,” katanya.

Tidak sedikit orang atau perusahaan yang punya jalan hidup seperti itu.

Memang tidak gampang memahami rumus derivatif ini. Saya biasanya menghindar saja, daripada pusing. Kelihatannya memang ndeso, bodoh, dan tidak modern, tapi saya memang benar-benar sulit memahami rumusnya.

Bahkan, rumus itu ternyata memang tidak pernah ada. Kesalahan pokok sistem derivatif adalah tidak adanya kepastian apakah harga saham, uang, bunga, margin, aset, dan seterusnya itu bisa diperkirakan untuk jangka 3 atau 5 atau 10 tahun. Bahkan, tidak bisa diketahui apakah pasarnya itu memang ada. Artinya, kalau satu saham yang dibeli itu kini harganya Rp 1 juta, lalu diperkirakan 5 tahun lagi menjadi Rp 10 juta, maka pertanyaannya adalah: apakah benar lima tahun kemudian jadi Rp 10 juta? Kalau toh “ya”, apakah ada pembelinya?

Karena kepastian itu memang tidak ada, digunakanlah berbagai asumsi. Sekian banyak asumsi lantas dijadikan satu menjadi “model”. Variasi dari gabungan asumsi itu melahirkan berbagai model. Belakangan jadilah “model’ itu seperti fakta kebenaran. Yang semula hanya “model” lantas seperti “pasar yang sesungguhnya”.

Akibatnya, sebelum transaksi, selalu angka-angkanya dimasukkan begitu saja ke dalam model di komputer. Komputer yang akan menganalisis. Lalu keluarlah angka-angka akhir: berapa harga saham atau uang itu lima tahun ke depan. Nilai itulah yang kemudian dianggap sebagai kekayaan riil saat ini. Termasuk bisa menjualnya atau menjaminkannya untuk pinjam uang. Jaminan itu lantas dijaminkan lagi, dijaminkan lagi, dijaminkan lagi…. Jadilah, pasar derivatif menjadi sebesar USD 516 triliun.

Betapa besarnya angka itu bisa dilihat dari data BIS berikut ini. Nilai saham dan bond (surat utang atau obligasi) di seluruh dunia hanyalah USD 100 triliun. Total nilai realestat di seluruh dunia (yang di pasar modal) adalah USD 75 triliun. GDP Amerika adalah USD 15 triliun.

Jadi, jangan diingat-ingat tulisan ini. Pertama, meski sudah disederhanakan penulisannya, tetap saja ruwet. Kedua, daripada takut sendiri. (*)

Sejak menekuni bisnis Illustrasi via online sejak 3 bulan lalu, hari inilah hari paling menggembirakan bagi saya. Entah ini patut disyukuri atau kita harus sedih karena USD naik, hehehe…

Menurut yang saya baca di media, hal ini disebabkan oleh krisis ekonomi di USA, tapi kok malah naik USD-nya?? Hahaha… Jadi blo’on nih ngomongin ekonomi. Kemarin baca koran, saya jadi ikut prihatin, karena yang saya lihat adalah foto-foto wajah orang stress di seluruh dunia, mereka sedang memantau perkembangan angka naik-turunnya USD di Bursa Efek masing-masing. Banyak Investor yang rugi besar karena ini, ada juga yang menjual saham dengan status rugi, ada juga yang tetap menahannya dan berharap agar perekonomian balik semula. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, apapun yang terjadi, yang pasti itulah resiko yang akan mereka hadapi. Salut deh buat mereka!! Semoga gak bunuh diri aja kalau bangkrut… Hehehe…

Waah, perlu belajar banyak nih tentang perekonomian… Oke, semangat!! Anak ekonomi monggo kasih pelajaran untuk saya ya… Hehehe… :D

Dua orang mahasiswa drop out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan sosok besar di dunia software dengan hanya ijazah SMA.

Seorang veteran perang berusia 65 tahun mempunyai gagasan menjual resep ayam goreng miliknya ke restoran-restoran. Banyak orang menertawakan dan menolak gagasannya. Berapa kali ia ditolak? 1.009 kali dalam 2 tahun!! Jika ia berhenti pada penolakan yang ke-1.000, mungkin kita tak akan mengenal nama Kolonel Sanders dan Kentucky Fried Chicken.

Memang sebenarnya tidak ada orang yang gagal. Bahkan Soichiro Honda berkata, “Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya cuma 1%, tapi 99% yang tidak terlihat adalah kegagalan saya.” Yang ada hanyalah orang yang menyerah dan berhenti sebelum mencapai sukses.

Tetap SEMANGAT!!
Sumber:

Hari Raya Idul Fitri sudah datang dan hampir berlalu, kesibukan sehari-hari mulai mengetuk pikiran lagi beserta kepenatannya. Nikmatnya kebersamaan di minggu ini jadi menambah malas diri untuk kembali kerja hari Senin. Apapun yang telah melanda otak kita, itulah warna kehidupan… Nikmatilah!

Saya menyempatkan diri di hari ke-2 Lebaran ini untuk mengisi blog baru saya ini, hehe… Dengan maksud memberi salam kepada teman-teman yang lagi online:

~~~~~~~~

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H

“MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN”

~~~~~~~~

Salam hangat,

Tegar Ariprabowo

Fiuh, kenapa waktu begitu cepat berlalu?

Beuh, kenapa tiba-tiba sudah habis deadline pengiriman?

Ooh, apakah tahun depan masih ada kesempatan seperti tahun lalu?

Januari 2008 lalu adalah Acara Penganugerahan CAMS Award 2007, kebetulan sekali Tekaceria Studio dapet tempat 5 besar untuk kategori PSA Umum. Walaupun gak menang, tapi senengnya luar biasa… Ketemu pakar, praktisi, dan pengusaha2 animasi hebat seperti Bu Peni Cameron (direkturnya CAMS).

Tahun ini ternyata gak sempat bikin karya… Kebanyakan apa ya? Tau’ deh…

Semoga tahun depan sempat deh… Juara bertahannya aja bikin lagi… Gak mau dikira nyerah nih sebenernya… Tapi gimana lagi yo?!

Ah, sudahlah… Selamat berjuang ya untuk temen-temen peserta CAMS Award tahun ini! Dan ternyata temen-temen sekampus juga lebih banyak yang ikut daripada tahun lalu yang cuma 2 tim. Good luck temen2…! :)

Ini pose-pose narcis kami sewaktu disana:

Setelah acara selesai, kami sempatkan ambil gambar moment bersejarah ini. Hehehe…

Ini di penganugerahan SET-Global Warming, bareng Pak Garin Nugroho.

Ini di penganugerahan UrbAnimation 2008, bareng Pak Chandra, sutradara Janus Prajurit Terakhir.

di UrbAnimation 2008 juga, ini bareng pak Dwi Koen, komikus terkenal Indonesia kita. Dan Mas Wawan (Wiryadi Dharmawan) Pinkblues sang juara CAMS Award 2007.

Hehehe… kok ini muncul disini juga? Kan acaranya di Surabaya? Gpp deh, bonus… Hehe… Ini pas foto bareng mas Riri Reza, sutradaranya Petualangan Sherina, Gie, dan yang terbaru Laskar Pelangi. Ini waktu acara penganugerahan BPMTV-TVE di Surabaya.

Yaa, itulah pose-pose narcis kami waktu disana, maklum lah, ndeso semua… Hahahaha… Sayangnya sekarang kebanyakan personil kami sudah ganti. Yang lama tinggal 2 orang termasuk saya. Tapi kami berusaha terus untuk produktif berkarya… SALAM ANIMASI!!

Tegar Ariprabowo – Editor Tekaceria Studio

Epic War adalah game online yang berbasic flash game karya ArtLogic Games Surabaya. Game ini mempersembahkan sebuah perang sengit antara dua kubu, kita berperan menjadi Shaman, yang harus kita bunuh adalah para Orc, Goblin, sampai Dragon musuh. Mereka menyerang dengan berbondong-bondong, kita harus membunuh mereka semua sebelum sampai di bawah benteng kita, kalau mereka sampai di benteng kita maka hancurlah kita.

Yeah, seru banget main game ini, saya aja sampai lupa makan saking serunya. Kolaborasi yang apik di tim ArtLogic Games yang dikepalai mas Rudy Sudarto. Saya sendiri disini membantu untuk Desain Karakternya, kalau mau lihat sketsa saya di sini.

Hei, kalau ingin mencoba mainkan gamenya, pasti anda akan ketagihan untuk naik ke level selanjutnya. Silahkan klik disini: EPIC WAR gameonline

Oke, selamat bersenang-senang.

Tegar Ariprabowo

Next Page »